• Cougar

    Photoshop Tutorial : Photo Manipulation

  • Lions

    Cara Meningkatkan IQ

  • Snowalker

    Situs Australia yang di Lumpuhkan Hacker Tanah Air

  • Howling

    Spesifikasi Mobil Yang Menewaskan Paul Walker

  • Sunbathing

    Paul Walker Ternyata Memiliki Tanah di Indonesia

Sabtu, 30 November 2013

Mobil Usia 41 Tahun Dihargai Rp 27 Miliar


Butuh waktu lama untuk para pecinta otomotif menyadari betapa istimewa mobil ini. Dan setelah 40 tahun kelahirannya, Plymouth HEMI Cuda ini pun kini kembali berjaya. Harga US$ 3,2 juta atau sekitar Rp 27,2 miliar pun dibutuhkan untuk membawa pulang mobil tersebut.

Mobil lansiran tahun 1970 ini bukanlah sebuah mobil super seperti halnya mobil Ferrari atau Lamborghini. Tenaganya pun tidak besar dan tidak pula memiliki banyak silinder di mesinnya. Tapi kini harganya satu setengah kali harga Bugatti Veyron.

Seperti dilansir autoevolution, Selasa (5/7/2011) sebuah Plymouth HEMI Cuda kini sedang dilelang. Mobil tersebut adalah mobil yang model tahun 1970 tapi selesai dibangun pada 1 Agustus 1969.

Mobil ini merupakan mobil pertama yang diproduksi dengan metode E-body dan dibuat dengan tangan di Chrysler Claire Point, Michigan.

Nah karena ini merupakan sebuah mobil purwarupa yang harusnya tidak dijual, maka tidak heran bila harga mobil ini pun melambung tinggi.

Model Cuda sendiri hanya dibangun sampai tahun 1971 dalam dua model yakni coupe dan convertible. Di versi jalanannya, mobil ini memiliki tenaga sekitar 450 hp dengan torsi hampir 500 lb-ft meski versi prototipenya hanya memiliki kekuatan sekitar 400 hp saja.

Untuk menyalurkan kekuatan tersebut ke rodanya, maka Plymouth HEMI Cuda mengaplikasi transmisi manual empat percepatan dan transmisi matik Torqueflite tiga percepatan. Ada 8 pilihan mesin dengan berbagai tambahan optional yang harus ditebus dengan harga sekitar US$ 871 ketika itu.

Dan karenanya, harga US$ 3,2 juta atau sekitar Rp 27,2 miliar yang dibanderol untuk memiliki mobil ini pun tentu akan membuat setiap orang yang melihatnya geleng-geleng kepala.


Posted by: Yahya Abdurrosyid M

Jumat, 29 November 2013

Generasi Baru Teroris: Rohis atau Jurnalis?


Telah lahir generasi baru teroris. Mereka adalah siswa SMP dan SMA dari sekolah-sekolah umum. Mereka mengikuti program ekstra kurikuler di masjid-masjid sekolah. Mereka dijejali dengan doktrin bahwa penguasa adalah thagut/kafir/musuh. 

Begitulah Metro TV memberitakannya dalamBreaking News, Rabu, 5 September lalu, berdasarkan penelitian seorang profesor bernama Bambang Pranowo. Secara mudah, dengan membaca ciri-ciri generasi baru teroris yang dimaksud, telunjuk tangan siapa pun akan mengarah pada ROHIS (Rohani Islam).


Berita ini mengingatkan saya pada peristiwa tiga tahun silam saat media ramai-ramai mewartakan penangkapan Noordin M Top (NMT) di Temanggung, Jawa Tengah.  Ketika itu, seorang wartawan dengan yakinnya mengabarkan bahwa itu adalah NMT. Saat itu juga seluruh stasiun tv berlomba-lomba menyajikan tayangan seputar perburuan ini. TV One menayangkan penyergapan itu secara live. Masyarakat seolah dipaksa untuk menerima informasi mentah-mentah bahwa NMT telah tewas. 

Prinsip check dan recheck diabaikan. Mereka juga mengabaikan salah satu kredo paling penting dalam pemuatan berita: Show it, don’t tell. Tunjukkan, jangan cuma cerita. Sekitar dua tahun saya pernah menimba ilmu jurnalistik pada salah seorang asabiqunal awwalun Majalah Tempo: Yudhistira ANM Massardi. Ia tak bosan mengingatkan saya untuk memperhatikan kredo tersebut.

Tak satu pun pewarta yang melihat secara langsung bahwa orang yang ditembak itu adalah NMT. Mereka tak bisa menunjukkan bahwa sosok itu adalah NMT. Tapi mereka begitu bersemangat mengabarkan bahwa yang tertembak adalah NMT. Dan hampir seluruh media massa mengamininya dalam pemberitaan keesoka harinya. Lalu tak ada satupun yang kemudian meminta maaf setelah diketahui yang tertembak adalah Ibrohim.

Jika sudah menyangkut terorisme, ghiroh media massa begitu luar biasa. Bombastis. Tendensius. Apapun peristiwa peledakan, tanpa melihat target, jumlah korban, kualitas bom, dan lainnya, maka media akan menghidangkannya kepada publik sebagai berita terorisme. Penyerangan di Solo yang “hanya” memakan korban satu orang dan lebih layak disebut peristiwa serangan biasa, diberitakan sebagai aksi teroris. Bom rakitan yang sempat meledak di rumah Thoriq dengan skala yang kecil pun disebut teroris.

Usai kita menyaksikan dan membaca berita, seolah-olah negeri ini dikepung teroris. Seakan-akan tetangga-tetangga kita adalah teroris. Masyarakat dicekam ketakutan. Rasa curiga membuncah satu sama lain. Berita teroris akhirnya menjadi teror tersendiri bagi masyarakat.

Kasus pemberitaan bahwa Rohis adalah generasi baru teroris menjadi bukti lain betapa gegabahnya para jurnalis membuat berita---tanpa mengindahkan kode etik dan 9 Elemen Jurnalistik Bill Kovach. Sebuah penelitian yang entah bagaimana metodeloginya dan belum tentu benar, langsung dipublish tanpa prinsip cover both sides. Dan kredo show it, don’t tell it kembali mereka langgar.

Apa buktinya jika Rohis jadi sarang teroris? Apakah mereka bisa menunjukkan bahwa memang ada anak Rohis yang menjadi teroris? Lalu apakah mereka bisa menunjukkan bahwa materi dan metodologi yang disampaikan pada acara-acara Rohis mampu membentuk generasi baru teroris? Jawabannya tidak ada. Berita ini pada muaranya hanya menjadi teror bagi masyarakat, bagi orangtua yang memiliki anak yang aktif di Rohis, bagi anak-anak Rohis dan bagi umat Islam.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, teror adalah tindakan seseorang atau kelompok yang menggunakan cara-cara kekerasan untuk menimbulkan rasa takut agar tujuannya tercapai. Secara etimologis, terorisme (terrorism) berasal dari kata terror. Menurut Oxford Paperback Dictionary,  teror artinya extreme fear (rasa takut yang luar biasa), a terrifying person or thing (seseorang atau sesuatu yang mengerikan). Terrorism diartikan sebagai use of violence and intimidation, especially for political purposes (penggunaan kekerasan dan intimidasi, utamanya bagi tujuan-tujuan politik).

Sementara Encyclopedia Americana menyebutkan, terorisme adalah penggunaan atau ancaman kekerasan yang terbatas pada kerusakan fisik namun berdampak psikologis tinggi karena ia menciptakan ketakutan dan kejutan. Keefektifan terorisme lebih bersifat politik ketimbang militer. Dengan demikian, aksi teroris dimaksudkan untuk mengkomunikasikan sebuah pesan. Di sini, terorisme bisa dipahami sebagai salah satu bentuk komunikasi dengan kandungan “pesan politik”.

Dalam pandangan saya, berita-berita seputar terorisme yang  secara massif dilakukan tanpa mengindahkan prinsip-prinsip jurnalistik adalah sebuah bentuk kekerasan visual (gambar) dantext (tulisan). Ketika berita ini terus menerus ditayangkan, yang lahir  kemudian adalah rasa takut publik. Itulah jurnalisme terror. Itulah teror dalam bentuk lain.

Anak-anak Rohis bukanlah generasi baru teroris. Kebetulan saya memiliki murid mengaji yang berasal dari Rohis sebuah SMA. Selama mengajar mereka, saya tak pernah memberikan materi bagaimana membuat bom dan menyebarkan kebencian kepada agama atau kelompok lain. Mereka adalah anak-anak yang berpikiran terbuka, kreatif, maju, cerdas, tidak hedonis. Dan potret anak-anak Rohis seperti ini juga terdapat di seluruh penjuru Nusantara.

Lalu siapa sebenarnya generasi baru teroris? Anak-anak Rohis atau Jurnalis yang telah membuat berita yang meneror masyarakat?

Wallahua’lam

Edited by: Yahya Abdurrosyid M

Fakta Barut Misteri Segitiga Bermuda



Bermuda (Bermuda Triangle) adalah tempat yang dianggap tempat paling misterius di bumi ini. Karena banyak hal-hal aneh yang terjadi di tempat tersebut. Mulai dari kapal hilang, pesawat hilang, bahkan kabarnya sampai ada markas alienyang akan membuat pemerintahan baru di bumi ini. Nah, Sebenarnya ada apa sich di balik misteri itu ??
Segitiga Bermuda disebut juga Segitiga Setan adalah sebuah wilayah lautan di Samudra Atlantik seluas 1,5 juta mil2 atau 4 juta km2 yang membentuk garis segitiga antara Bermuda (wilayah teritorial Britania Raya sebagai titik di sebelah utara) Puerto Riko (teritorial Amerika Serikat sebagai titik di sebelah selatan), dan Miami (negara bagian Florida, Amerika Serikat sebagai titik di sebelah barat). Sejarahnya, pada masa pelayaran Christopher Colombus, ketika melintasi area segitiga Bermuda, salah satu awak kapalnya mengatakan melihat “cahaya aneh berkemilau di cakrawala”. Beberapa orang mengatakan telah mengamati sesuatu seperti meteor. Dalam catatannya ia menulis bahwa peralatan navigasi tidak berfungsi dengan baik selama berada di area tersebut.
Sebetulnya, Segitiga Bermuda adalah sebuah fenomena gas akut biasa, menurutSalem-News.com. Gas alam, sama seperti gas yang dihasilkan oleh air mendidih, terutama gas metana, adalah tersangka utama di balik hilangnya beberapa pesawat terbang dan kapal laut. Bukti dari penemuan yang membawa sudut pandang baru terhadap misteri yang menghantui dunia selama bertahun-tahun itu ada dalam laporan American Journal of Physics.
Para Oseanograf yang menjelajah di dasar laut Segitiga Bermuda dan Laut Utara, wilayah di antara Eropa daratan dan Inggris melaporkan menemukan banyak kandungan metana dan situs-situs bekas longsoran. Dari data tersebut, 2 peneliti, Professor Joseph Monaghan dan David May menggambarkan sebuah balon metana raksasa meledak dari dasar laut. Metana, yang biasanya membeku di bawah lapisan bebatuan bawah tanah, bisa keluar dan berubah menjadi balon gas yang membesar secara geometris ketika bergerak ke atas. Ketika mencapai permukaan air balon berisi gas itu, akan terus membesar ke atas dan ke luar. Setiap kapal yang terperangkap di dalam balon gas raksasa itu akan langsung goyah dan tenggelam ke dasar lautan. Pesawat terbang yang terjebak di balon metana raksasa, berkemungkinan mengalami kerusakan mesin karena diselimuti oleh metana dan segera kehilangan daya angkatnya.

Ilmuwan lainnya, Ivan T Sanderson telah mengidentifikasi zona-zona misterius sejak tahun 1960-an. Sanderson bahkan menggambarkan sebenarnya zona-zona misterius itu lebih berbentuk seperti ketupat ketimbang segitiga. Sanderson menemukan bahwa bukan saja Segitiga Bermuda tetapi Laut Jepang dan Laut Utara adalah 2 tempat kejadian misterius sering terjadi. Nah, jadi bagaimana pendapatmu ?? Apakah info tersebut masuk akal ?? Ataukah masih memegang anggapan mistik di balik Bermuda Triangle itu ??

Edited by: Yahya Abdurrsyid M